I’jaz al-Ilmi dalam al-Qur’an; Suatu bantahan atas dugaan ketidak ilmiahan al-Qur’an

Semakin berkembang pesatnya disiplin ilmu pada saat ini, membuat semakin banyaknya masarakat yang terseret untuk tidak berusaha memahami al-Quran. Al-Qur’an yang merupakan pokok-pokok dari segala disiplin ilmu, selain itu juga yang turun jauh lebih awal dari ilmu tersebut seakan-akan banyak di klaim dengan sebutan “tidak relevan”. Sebenarnya bukanlah salah al-Qur’an, namun kesalahan bahasa-lah yang membuat al-Qur’an sering disalahkan. analoginya; ilmu Allah yang luas ibarat air di lautan dan otak kecil kita ibarat gelas minum yang teramat kecil membuat sebanyak apapun dan bahkan jika semua air dilautan itu di tuangkan ke gelas minum kecil semisal otak kita akan membuat air selaut itu tadi hanya menjadi segelas, kemana selebihnya air laut yang teramat sangat banyak itu? Ia tumpah, kita tak bisa menampungnya, yang bisa kita tampung hanya segelas dan sisanya tak dapat kita jangkau. Katakanlah itu sebuah analogi yang bisa lebih mudah untuk di pahami, Namun justru akan jauh lebih hina lagi bagi ilmu manusia jika kita merujuk ke Hadits qudsi, yang mana Kekuasaan allah ibarat lautan yang luas dan jika manusia dari awal sampai ahir nanti tak terkecuali jin semuanya berkumpul di suatu tempat kemudia meminta pada Allah dan Allah swt. mengabulkannya, maka kekuasaanya tidak akan berkurang sedikitpun kecuali bagai tetesan air dari jarum yang di masukkan dalam air laut. Jika seperti itu adanya, bagaimana kemudia kita bisa menjangkau Hak-Hak Allah swt. Yang sangat kaya itu?. Maka tak dapat di salahkan jika kemudian Amina Wadud, seorang wanita yang ahli di bidang tafsir pada abad kontemporer, Berpendapat; “Selama ini tidak ada penafsiran yang objektif”., artinya setiap tafsir masih saja selalu di pengaruhi olah pengalaman subyektif dan latar belakang masing-masing orang. jikalau pendapat itu benar, maka bagaimana kemudian teori melepas semua atribut-atribut yang bisa mempengaruhi sebuah penafsiran milik M. Abid al-Jabiri, seharusnya itu lebih mengarah pada penafsiran objektif, justru juga tidak objektif?

Lalu, Bagaimana dengan tafsir yang kadang di-kontra-I oleh ilmu sekarang?mari!

Di antara ayat al-Qur’an yang sering di klaim tidak sesuai dengan ilmu masa kini yaitu :

Surah al-Mu’minun ayat 14 

ثُمَّ خَلَقۡنَا النُّطۡفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقۡنَا الۡعَلَقَةَ مُضۡغَةً فَخَلَقۡنَا الۡمُضۡغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوۡنَا الۡعِظٰمَ لَحۡمًا ثُمَّ اَنۡشَاۡنٰهُ خَلۡقًا اٰخَرَ‌ ؕ فَتَبٰـرَكَ اللّٰهُ اَحۡسَنُ الۡخٰلِقِيۡ

Gambar http://www.islamresponses.com/
"Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik."

Dewasa ini, ayat ini banyak di sanggah oleh ilmu kedokteran dengan mengatakan; sebenarnya di dalam segumpal darah itu sudah ada tulang belulang seperti tangan, kaki dll hanya saja kecil. Hal ini secara tidak langsung menyalahkan teks al-Qur'an, yang mana ketetapan al-Quran mengatakan segumpal daging terlebih dulu barulah proses selanjutnya menjadi tulang belulang.

Hal ini sempat di sanggah oleh kiyai Bahauddin Nursalim al-Hafidz, seorang pakar tafsir sekaligus pakar fikih yang di akui kealimannya oleh Prof. Quraish Shihab, Dengan mengatakan; "akan tetapi di al-Qur'annya alaqah, bukan segumpal darah". “jadi bagaimanapun ulama dan al-Qur’an menerjemahkannya, di al-Qur’an tetap ‘Alaqah” lanjut beliau. Secara tidak langsung, pendapat beliau dapat kami korelasikan dengan pendapat amina wadud pertama tadi, bahwa tidak ada penafsiran al-quran yang objektif . Sebab itulah, terkadang para ulama menafsirkan ala kadar akal manusia dapat menjangkaunya. Seperti halnya penafsiran mengenai lafad  "يد" pada surah al-Maidah ayat 64 dan al-Fath ayat 10 yang banyak di tafsiri dengan “kekuasaan” untuk tidak adanya kesalah pahaman orang yang tidak berakal kemudian mengatakan itu bertentangan dengan firman Allah SWT sendiri “ليس كمثله شيئ “ , padahal masih saja banyak ulama yang mengatakan bahwa kata "يد" adalah "يد" yang di maksud Allah SWT, Hanya saja kita memiliki keterbatasan bahasa dan pemahaman untuk itu. Kalau seperti itu, maksud Allah akan tumpah ketika di tuangkan pada akal kita yang hanya ibarat gelas minum kecil tadi.

Surah Luqman ayat 34

اِنَّ اللّٰهَ عِنۡدَهٗ عِلۡمُ السَّاعَةِ‌ ۚ وَيُنَزِّلُ الۡغَيۡثَ‌ ۚ وَيَعۡلَمُ مَا فِى الۡاَرۡحَامِ‌ ؕ وَمَا تَدۡرِىۡ نَفۡسٌ مَّاذَا تَكۡسِبُ غَدًا‌ ؕ وَّمَا تَدۡرِىۡ نَـفۡسٌۢ بِاَىِّ اَرۡضٍ تَمُوۡتُ ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌ خَبِيۡرٌ

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Kata yang bermakna “mengetahui apa yang ada dalam rahim” juga sering saja di katakan tidak relevan, sebab yang katanya hanya Allah SWT yang tau, namun ilmu kedokteran juga mengatahui apa yang ada dalam rahim, dengan ilmunya mereka bisa mengetahui apakah ini pria atau wanita. Namun al-Qur’an dengan I’jaznya seakan bukan hanya menjatuhkan, namun juga menimpakan padanya sebuah papan. Mari kita lihat hadits yang memiliki fungsi sebagai penguat pada al-Qur’an Riwayat Bukhori Muslim yang atinya :

“Dari Abu ‘Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘Alaqah (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi Mudhghah (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 kata : Rizki, Ajal, Amal dan Celaka/bahagianya. Maka demi Allah yang tiada Tuhan selainNya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja, kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja, kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga”.(HR. Bukhori Muslim).

Lalu, apakah ilmu kedokteran bisa mendeteksi  Rizki, Ajal, Amal dan Celaka/bahagianya yang itu juga ada pada rahim saat itu?

Atau hendak menyalahkan ayat yang memiliki arti “dan Dialah Yang menurunkan hujan”?, dengan dalil bahwa teknologi sudah mampu mendeteksi terjadinya hujan?. Bukankah Allah sudah berfirman dalam QS. Qaf Ayat 9 :

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً مُّبٰرَكًا فَاَنْۢبَتْنَا بِهٖ جَنّٰتٍ وَّحَبَّ الْحَصِيْدِۙ

Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfa`atnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam”

Lalu apakah teknologi modern saat ini mampu mengetahui bahwa air itu mengandung barokah atau tidak?

Wallahu A’lam.

Kiriman Akhi Ab H. A. Syamsuddin

Posting Komentar

0 Komentar