Mengingat masa ini terdapat tantangan dari dalam dan luar yang menginginkan pergantian ideologi dan bentuk negara, sentimen-sentimen Negara Islam, Pancasila berkala, serta penggunaan tendensi agama untuk terus merongrong kedaulatan negara, baik dengan kekerasan maupun dengan penanaman ideologi: baik dengan nama ‘ajam atau arabiy. Sebagian lagi mengesankan teror untuk melucuti seluruh asas Pancasila, sebagian menggunakan ideologi khilafah untuk menurunkan kesakralan Sang Saka Merah Putih. Dan pada saat yang sama, Pancasila telah mampu menunjukkan kemampuannya yang bisa bertahan dalam mempersatukan bangsa, bahkan dalam kondisi paling akut sekalipun.
Pancasila bukanlah milik siapa-siapa. Pancasila adalah milik
kita dan umat muslim sepenuhnya. Kelahiran Pancasila yang bisa dikatakan
merupakan keistimewaan luar biasa, dipenuhi dengan semangat juang dan
perjalanan yang panjang. Pancasila adalah bagian dari kemerdekaan bangsa kita,
dimana kemerdekaan bangsa mewujud pada pembentukan Pancasila. Dengan demikian,
memilih Pancasila bagi bangsa kita dan orang muslim ialah memilih kemerdekaan,
mempertahankan kemerdekaan, dan mengisi kemerdekaan.
Eksistensi awal mula kemerdekaan yang merupakan pijakan awal
pembersatuan seluruh wilayah Indonesia, dan pelepasan belenggu penjajahan juga
tak luput dari kontribusi besar perjuangan santri dan muslim Indonesia.
Peresmian Pancasila sebagai pengukuh kemerdekaan bukanlah hasil eksperimen Sang
Putera Fajar. Penetapan Pancasila sebagai asas dan falsafah negara bisa juga
dilukiskan sebagai ‘wahyu Tuhan’. Cobalah kembali ke pangkuan sejarah
penghapusan tujuh kata selepas Ketuhanan Yang Maha Esa demi menjaga keutuhan
Bangsa dan kebhinekaan Indonesia, dalam sidang dan rapat kabinet PPKI yang
dihadiri oleh dua kubu berseberangan, kubu Nasionalis dan Agamis. Kerancuan dan
kontradiksi terjadi saat kaum agamis bersikukuh mempertahankan tujuh kata
selepas Sila Pertama. Sedang kaum nasionalis berdalih bahwa kemerdekaan berkat
peluh dan juang semua agama. Solusi terbaik yang diambil Bung Karno adalah memohon
restu KH. Hasyim Asy’ari sebagai salah satu ulama kharismatik dengan mengutus
KH. Wahid yang notabene adalah putera Sang Kyai.
Selepas menghaturkan kontradiksi dan ideologi di Kabinet
tentang Pancasila, maka KH. Hasyim Asy’ari berdawuh, “Nak, saya mau istikharah
dulu dan puasa 3 hari. Kembalilah, Nak 3 hari lagi”.
Usai melakukan istikharah dan puasa selama 3 hari, di malam
terakhir dari batas yang ditentukan, KH. Hasyim Asy’ari melaksanakan Salat
Hajat 2 rakaa, dimana rakaat pertama membaca Surah At-Taubah 41 kali dan rakaat
kedua membaca Surah Al-Kahfi 41 kali.
KH. Hasyim Asy’ari pun menuturkan hasil khulwahnya kepada
puteranya, KH. Wahid, “Nak, keputusan khulwahku, hapuslah tujuh kata selepas
Sila Pertama, sebab itu akan menyebabkan perpecahan Kemerdekaan adalah
kemaslahatan yang didukung oleh ribuan nyawa para syuhada dan perpecahan akan
mengembalikan bangsa ini pada jurang kesengsaraan yang tidak ada ujung” (Gus
Muwafiq).
Indonesia dengan dasar Pancasila juga merupakan perjanjian
antarkelompok yang mayoritasnya ialah muslim. Sementara itu, masyarakat Islam
diperintahkan oleh Allah swt agar menghormati sebuah perjanjian yang sudah dibuat.
Sebagaimana firman-Nya berikut.
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡۤا
اَوۡفُوۡا بِالۡعُقُوۡدِ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah
akad-akad itu.” (QS. Al-Maidah: 1)
اَوۡفُوۡا بِالۡعَهۡدِۚ اِنَّ
الۡعَهۡدَ كَانَ مَسۡـــُٔوۡلً
Artinya: “Dan penuhilah janji. Sesungguhnya janji itu pasti
diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Israa’: 34)
Oleh sebab itu, pembelaan terhadap eksistensi NKRI dan
Pancasila merupakan kewajiban bagi umat Islam. Dengan sendirinya, tugas umat
muslim Indonesia ialah mencintai bangsanya,mempertahankan agar tauhid bisa
terpelihara di bumi Indonesia sehingga kita harus juga menjaga sila ‘Ketuhanan
Yang Maha Esa’; kita juga ingin keadilan ditegakkan di bumi Indonesia sesuai
yang diperintahkan Alquran. Karenanya, kita harus mengontrol pelaksanaan
sila’Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia’. Kita juga ingin
mempertahankan wa ta’aawanuu ‘ala al-birri wa at-taqwaa (gotong royong dalam
membangun kebaikan bangsa), sehingga kita harus mempertahankan dan mengamalkan
sila ‘Persatuan Indonesia’.
Harmonisasi dalam tata cara memperlakukan orang lain sesama
manusia juga harus beradab dan adil, bukan semau-maunya sehingga kita harus
ikut mengontrol, membela, dan meningkatkan nilai-nilai ‘Kemanusiaan yang Adil
dan Beradab’, bukan hanya kemanusiaan saja. Bukankah Allah swt berfirman dalam
Surah Al-Israa’ ayat tiga sebagai berikut.
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ
وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
Pada akhirnya, penulis hanya ingin berkonklusi atas
pernyataan ‘Pancasila berhala’, bahwa Pancasila kini ‘sudah bersyahadat’ dan
dawuh Gus Dur ‘tanpa Pancasila negara akan bubar’.
Kiriman akhy Moh. Hasan Mutawakkil

0 Komentar